Belajar Dari Lingkungan Sekitar

Standard

Saya tinggal di daerah jakarta timur, tetapi di bagian timur yang paling pinggir sekali apabila di lihat dari peta. Saya tinggal di lingkungan yang bisa dibilang unik karena ada 1 keluarga besar yang tinggalnya berdekatan dan itu ada lebih dari 5 keluarga besar yang tinggal di daerah saya. Saya pun mempunyai  kelurga besar yang tinggalnya saling berdekatan. Dan lingkungan saya terdiri dari beberapa agama ada Islam, Kristen , Konghucu dan kami semua saling menghormati satu sama lain. Apabila saat hari besar dari masing-masing agama tersebut, misalnya Hari Raya Idul Fitri bagi umat islam, orang yang non muslim pun ikut merayakan maksudnya bagi umat islam saat merayakan Hari Raya Idul Fitri biasanya kita saling memaf-maafkan dengan berkunjung kerumah-rumah tetangga dan orang non muslim itu pun ikut berkeliling berkunjung keruma-rumah tetangga untuk bermaaf-maafan. Sifat kekeluargaan di lungkungan saya sangat terasa sekali. Saling peduli, bergotong royong kalau ada kerja bakti, dan saling membantu tanpa harus diminta.

Di lingkungan saya banyak terdapat orang yang berjualan, paling banyak yaitu berjualan makanan. Saya dan orang-rang di lingkungan saya kenal sekali dengan para pedagang-pedagang itu. Kami saling tegur sapa, berbincang-bincang, bercanda ria, tanpa memandang  status.

Status di lingkungan saya tidak pernah dipermasalahkan, terutama status perekonomian dari masing-masing keluarga. Kami saling menyatu dalam kepedulian, membaur dalam pergaulan, sehingga benar-benar tidak ada status yang membatasi. Palingan staus umur yang membatasi pergaulan, untuk orang yang lebih tua dari saya, atau anak muda yang seumuran dengan saya lebih menghormati orang yang lebih tua. Dan itu memang harus dilakukan.

Pastinya dari semua sisi kehidupan ada nilai baik dan nilai buruk. Penjelasan yang saya jelaskan di atas, itu semua baru terlihat dari sisi nilai baiknya saja. Di lingkungan saya juga mempunyai sisi buruknya.

Di lingkungan saya ada lebih dari lima orang anak yang seusia dengan saya pada hamil di luar nikah. Kebanyakan dari mereka hamil pada saat masih duduk di bangku SMP. Masa-masa dimana anak kecil beranjak menjadi seorang remaja, yang ingin mencicipi hal-hala baru yang belum pernah ia temui pada saat duduk di bangku SD. Pada saat SMA pun juga ada yang terjadi hamil diluar nikah. Karena pada saat usia tersebut masih di anggap ABABIL ( ABG Labil). Yang melihat jati dirinya, belum bisa melihat mana yang baik dan buruk untuk kedepannya. Itu merupakan salah satu akibat dari pergaulan bebas, pergaulan yang minim dengan pengawasan orang tua.

Pada saat saya SMP juga yang anak lelakinya banyak yang mencuri. Pernah ad kejadian, teman saya ada enam orangan yang melakukan pencurian di supermarket dekat rumah saya, tidakan mereka di ketahui oleh tetangga saya yang kebetulan kerja di tempat itu. Akhirnya mereka di kurng di dalam ruangan pendingin makanan. Sehingga mereka kapok untuk melakukannya kembali. Tetapi baru-baru ini ada anak lelaki usianya di atas saya melakukan tindakan pencurian juga, pada akhirnya orang tersebut dipenjara.

Saya benar-benar beruntung dilahirkan dari keluarga yang takut akan dosa. Pengawasan oraang tua saya benar-benar telihat, tapi bukan berarti orang tua saya terlalu protektif dalam pergaulan anaknya. Orang tua saya tidak pernah melarang anaknya bergaul dengan siapa saja, malahan orang tua saya selalu berpesan “tidak boleh memilih-milih teman”. Saya boleh saja berteman dengan anak yang nakal, tetapi saya tidak dibolehkan untuk mengikuti jejak dia. Saya harus bisa mebedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk kelanjutan masa depan saya.

Ada juga orang tua yang terus mebela anaknya, padahal anaknya jelas-jelas terlihat berperilakukan tidak baik dimata masyarakat, karena kelakukannya yang negatif. Anak itu berperilaku negatif karena dia sering membawa temannya main dirumahnya sampai larut malam, apabila pergi keluar selalu memakai pakaian yang minim akan bahan dan pulang juga larut malam. Sedangkan saya, saya tidak di ijinin sama orang tua saya apabila ada teman saya yang main sampai larut malam, dan kalu pergi keluar tidak boleh lebih dari jam sepuluh malam, malahan jam sembilan sudah di telphonnin untuk segera pulang sampai usia saya sekarang ini. Pada awalnya saya risih dengan perlakuan orang tua saya, tetapi lama-kelamaan saya berfikir kalau ini memang terbaik buat saya. Saya merasakan pandangan orang sekitar rumah saya kepada saya itu positif, derajat saya menjadi tinggi dimata mereka.

Dari penjelasan di atas banyak sisi negatif dan negatif yang dapat kita ambil sebagai pelajaran hidup, mana yang patut untuk di contoh dan mana yang tidak patut untuk dicontoh. Itu baru sedikit contoh yang saya ambil dari lingkungan disekitar saya yang dapat kita pelajari. Masih banyak lagi pelajran-pelajaran hidup dari lingkungan sekita ababila kita mau perduli dan memperhatikan lingkungan sekitar kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s